Kepingan Kata

Ribuan kata memenuhi benakku. Berputar, berpusar. Menunggu untuk dilepaskan.

Tapi, tak satu pun mampu kuuraikan. Mereka tak mau terangkai menjadi kalimat. Tak berdaya menjadikan dirinya sebuah prosa.

Pikiranku penuh umpah, namun mereka tak juga saling menyesuaikan. Bagai potongan puzzle yang tidak memiliki sisi yang sepadan. Mereka hanya berserakan.

Aku tak tahan! Kuharap mereka segera enyah dan lenyap. Namun aku juga demikian mencintai mereka. Dan tak ingin mereka menguap begitu saja.

-190116-

Orang-orang

Seringkali,

aku membencinya. Saat dimana aku bertemu orang-orang baru, dan rasa penasaran terpancar jelas di mata mereka.

Karena,

aku membencinya. Aku benci karena aku harus mengulang kalimat yang sama. Aku benci karena aku harus memperlihatkan air muka yang sama.

Aku benci tersenyum pada mereka padahal aku merasa kosong.

Aku benci terlihat kokoh padahal aku hancur lebur.

Aku benci bertahan padahal aku begitu tercekik.

Aku benci,

menjelaskan.

Suara-Suara

Terkadang rasanya betul-betul menyebalkan. Dengan suara-suara yang terus-menerus dibisikkan dan diteriakkan. Tidak bisakah berhenti sejenak?

Aku lelah. Untuk memblokir semuanya—untuk berpura-pura aku tetap baik-baik saja. Aku lelah, aku harus tetap ada.

Musuh

Musuh itu masih saja mengintai—di sudut belakang kepalamu, menunggu waktu yang tepat untuk menyerangmu lagi. Kau bisa saja mengabaikannya—justru sejujurnya itulah yang terbaik untukmu. Tapi kau tentu saja tak mungkin memedulikannya karena ia bagian dari dirimu—hidupmu. Mengindahkannya pun tak membuat segalanya jadi lebih baik, alih-alih ia semakin mendekatimu.

Continue reading