Antara Aku, Kamu dan Sebuah Rahasia

Bahkan, jika aku tidak bisa menahan lagi rahasia yang aku simpan, aku tidak akan begitu saja mempercayakan rahasia-rahasia tersebut kepada orang lain.

Apa gunanya membeberkan sebuah rahasia pada orang lain? Jika aku memberitahukannya pada orang lain selain diriku, maka itu bukanlah sebuah rahasia lagi—dan kamu tidak lagi mempunyai hal berharga yang bisa kamu lindungi. Kamu tak lagi istimewa.

Terkadang rasanya benar-benar menyebalkan! Karena hanya kamu (mungkin satu-satunya) yang tahu rahasia tersebut, dan kamu tak boleh mengatakannya pada yang lain.

index

Rasanya benar-benar ingin meledak lalu berteriak sepuasnya! Dengan segala cerita-cerita lain —rahasia-rahasia—yang tersimpan dalam pikiranku. Continue reading

Advertisements

Desember, Selamat Datang!

Senja,
Mendung kemudian hujan
Berulang-ulang
Desember berjalan
Lalu, sampai dimanakah kita sekarang?

Dingin mengembun di kaca jendela sebelah, memburamkan
Meski salju tak pernah turun, kenapa hadirmu menyesakkan?
Membekukan, bahkan sampai ke inti tulang
Mematikan sel saraf, hingga tak sadar waktu berlari meninggalkan

Kau berjalan, aku terdiam
Kau berlari, aku pun terdiam
—bukan, bukan berarti aku tak ingin mengejarmu
Sebuah tali mengikatku, oh bukan—itu rantai baja!
Atau, itu hanya alasan untuk sebuah kemalasan?

Aku tak ingin mengejarmu
Aku juga selalu mencoba tak lagi menunggumu—berbalik kemudian menggenggamku
Aku hanya ingin berhenti di titik ini—sekarang

Aku takut,
Semoga aku tak keluar dari jalan

Imajiner “Kita”

Kita,
Berdiri di bawah langit yang sama namun tanah yang terpijak tak sama.
Kita,
Disinari oleh bintang yang sama namun udara yang terhirup tak tentu sama.
Kita,
Terikat oleh dua suku kata namun itu hanyalah imajiner belaka.
Aku. Kamu.
Bisakah menyatu menjadi kata “Kita”?
Jika tanpa adanya takdir penghubung yang menyatukan, sepertinya aku akan tetap menjadi “Aku”, kamu tetap menjadi “Kamu”
dan “Kita” hanya akan menjadi imajinasiku saja.

Tahukah Kamu?

Terkadang, perasaanku padamu ini terasa meredup dengan berlalunya waktu tanpa adanya dirimu. Namun terkadang, rasa ini terlalu kuat hingga aku tidak bisa menjelaskan tentang “apa” atau “bagaimana” semua ini.

Membuatku sesak bernapas. Membuatku sulit untuk berpikir waras. Membuatku ingin menangis saat pada akhirnya kau mengatakan “Selamat Tinggal” dan–untuk sesaat–keluar dalam lingkaranku.

Bisakah–setidaknya kau mengertiku? Atau aku memang terlalu berlebihan dengan perasaanku ini padamu? Aku yang terlalu bodoh untuk mengerti. Aku terlalu tolol untuk memahami diriku–juga arti diriku bagimu.

Seandainya saja aku lebih dari aku yang sekarang ini. Seandainya saja aku bisa mengatakan semua ini kepadamu. Seandainya saja… Aku lebih bisa mengontrol perasaan yang begitu menyiksaku ini…

For you, Apple

[Lyrics] Evanescene – My Immortal

I’m so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
‘Cause your presence still lingers here
And it won’t leave me alone

These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have
All of me

You used to captivate me
By your resognating mind
Now I’m bound by the life you left behind
Your face it haunts
My wants pleasant dreams
Your voice it chased away
All the sanity in me

These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me
I’ve been alone all along

This song always made me so blue.. 😦