Sahabat? Mungkin Hanyalah Ada di Ruang Pikirku

Sahabat.

Ah, sejujurnya aku tak pernah mengerti sebenarnya arti sahabat. Aku tidak pernah tahu, bagaimana dia atau siapa dia. Aku menganggap aku belum pernah benar-benar memiliki seorang sahabat seperti yang banyak dibicarakan orang.

D-WIND

Sebuah genk–ah, bukan, kami tidak berniat membuat kelompok semacam itu. Kami hanya sekelompok anak remaja yang selalu bersama; belajar, ngobrol, main, dan menge-eksis-kan diri. Dulu–waktu kami masih mengenyam bangku SMA. Waktu dimana sebagian besar orang mengatakan bahwa masa SMA adalah masa yang takkan terlupakan. Dan itu benar–aku tidak pernah melupakan masa-masa itu.

D-wind, hanyalah sebuah singkatan dari nama depan kami; Dita, Wening, Indah, Nurul dan Dina. Tidak ada yang istimewa, hanya saja kami merasa istimewa jika kami bersama. Tidak ada yang seperti kami–dulu.

Dulu. Benar, itu semua dulu–tiga tahun yang lalu. Setelah terlepas dari salah satu SMA negeri di Salatiga dengan penuh sukacita, kami memilih jalan kami masing-masing. Kami berdiri sendiri-sendiri. Kami terpisah.

Meskipun pada selepasnya kami masih bisa bersama, bersama, dan bersama, seiring bergulirnya waktu–aku rasa–jarak pemisah di antara kami sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan menjadi lebar. Entahlah, semua itu gara-gara terlalu aktif atau pasifkah selama ini hubungan kami berjalan. Sejujurnya, jika kami benar-benar mau membuka mata, ada lubang besar pemisah di antara kami berlima.

Ya, dan mungkin hanya aku saja yang menganggapnya demikian.

Aku lah yang melebarkan jarak dari mereka. Aku lah yang sedikit demi sedikit memisahkan diri dari lingkaran kami. Aku menepi. Aku mengasingkan diri. Untuk sebuah alasan yang kupikir logis–menghindari seberondong pertanyaan orang-orang.

Benar. Aku bukan hanya menepi dari mereka, aku juga menepi dari lingkaran dunia–untuk melindungi pikiranku.

Sekali lagi, ya. Ya. Dan ya. Sepertinya aku merasa memang tidak memiliki sahabat. Dan aku tidak bisa bersahabat dengan orang-orang di luar pikiranku, yang tidak benar-benar mengerti jalan pikiranku–naif. Ya, aku adalah orang hanya bisa bersahabat dengan pikiranku sendiri. Membahas segala sesuatu dengan pikiranku sendiri, yang pada akhirnya akan menjadi gila–mungkin.

Terlepas dari siapa yang kuanggap sahabat, d-wind adalah orang-orang yang berarti dan berpengaruh dalam menjadi siapa dan bagaimana aku sekarang ini. Mereka mungkin bukan sahabat yang ideal bagiku, namun mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang yang lebih dari sekedar teman dan keluarga untukku.