Protected: Journal 040813

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Satu Tahun Sudah

“Kita bertemu satu tahun lagi.”

Ucapanmu kala itu seperti menjadi sebuah penggarapan, sebuah janji, dimana kita akan bertemu lagi satu tahun kemudian dari hari itu. Dan hari ini tepat 365 hari telah berlalu sejak hari itu, namun kamu berada di tempat yang sangat jauh, tak tersentuh. Di tempat dimana laut yang hanya menjadi penghubungnya.

Masih ingatkah kamu dengan ucapanmu kala itu? Atau saat itu kamu hanya sekedar mengumbar omongan? Dan aku menjadi orang yang telah menggantungkan harapanku pada ucapan sambil lalumu itu?

Meskipun tahu itu hal bodoh, dan kamu pasti tidak akan mengingatnya, aku masih saja menjadi orang tolol yang berharap kepadamu. Meskipun aku telah terlalu lelah dan selalu ingin berhenti berharap, hatiku masih saja tertuju padamu.

Aku begitu ingin menggapai dan meraihmu, namun aku juga begitu takut jika pada akhirnya nanti akulah yang harus terhempas dan terbakar jika terlalu dekat denganmu. Meskipun aku berkata aku sudah menyiapkan hati dengan resikonya, namun aku juga begitu takut dan tidak siap dengan kerusakan-kerusakan yang terjadi dan mungkin tidak akan pernah bisa aku perbaiki.

Karena, hal-hal yang telah berubah, hilang dan rusak, tidak akan pernah bisa kembali ke tempat yang sebelumnya.

Sebuah Perulangan dari Malam Sebelum Esok

 

Kosong. Seperti menunggu matahari terbit–itu sesuatu yang pasti–namun masih butuh berjam-jam untuk bisa melihat bias-bias kemerahan di ufuk timur sana.

Memilih bertahan, atau menyerah dan menutup mata? Membiarkan diri terlelap dan terkubur dalam lubang hitam tanpa tahu “apakah aku sanggup keluar”.

Mustahil. Meskipun sudah menyakinkan diri dan sanggup, “aku bisa”, toh waktu dengan kejamnya terus saja berjalan–dengan pasti. Perlahan mengikis dan mengkorosi sepersekian sel dan jaringan. Memperlambat. Menuakan. Membuat keyakinan pada akhirnya tergerus dan menguap.

Inikah pilihan yang benar?

179 hari telah terlalui, dan dengan bodohnya masih saja menghitung dan mengulang apa-apa yang sudah terjadi.

Tidakkah sebaiknya dibakar saja? Dibiarkan menjadi abu di tengah api yang menari-nari? Bukankah itu bisa membuatmu lebih hangat dan nyaman?

Oh, benar!

Ini bukan lagi dingin yang terasa–panas membuatmu gerah dan kehilangan akal. Pantas saja, pada akhirnya kau (lagi-lagi) tak bisa pergi dari tempatmu berada. Dan–oh, bukankah kau sudah terhisap lubang hitam tadi?

Tahukah Kamu?

Terkadang, perasaanku padamu ini terasa meredup dengan berlalunya waktu tanpa adanya dirimu. Namun terkadang, rasa ini terlalu kuat hingga aku tidak bisa menjelaskan tentang “apa” atau “bagaimana” semua ini.

Membuatku sesak bernapas. Membuatku sulit untuk berpikir waras. Membuatku ingin menangis saat pada akhirnya kau mengatakan “Selamat Tinggal” dan–untuk sesaat–keluar dalam lingkaranku.

Bisakah–setidaknya kau mengertiku? Atau aku memang terlalu berlebihan dengan perasaanku ini padamu? Aku yang terlalu bodoh untuk mengerti. Aku terlalu tolol untuk memahami diriku–juga arti diriku bagimu.

Seandainya saja aku lebih dari aku yang sekarang ini. Seandainya saja aku bisa mengatakan semua ini kepadamu. Seandainya saja… Aku lebih bisa mengontrol perasaan yang begitu menyiksaku ini…

For you, Apple