freak out

Sometimes, its kinda be creepy when someone find my blog and peeked my room. Feel like they’ll know my biggest secret and haunt me in my dream with their questions. Although, they even don’t know me nor I know them.

But, I couldn’t find any place where I belongs. I couldn’t find any place where I can throw all of trash on my mind.

I need to control my mind, so I can’t be insane when they pour any problems or another secrets of them on my mind.

Antara Aku, Kamu dan Sebuah Rahasia

Bahkan, jika aku tidak bisa menahan lagi rahasia yang aku simpan, aku tidak akan begitu saja mempercayakan rahasia-rahasia tersebut kepada orang lain.

Apa gunanya membeberkan sebuah rahasia pada orang lain? Jika aku memberitahukannya pada orang lain selain diriku, maka itu bukanlah sebuah rahasia lagi—dan kamu tidak lagi mempunyai hal berharga yang bisa kamu lindungi. Kamu tak lagi istimewa.

Terkadang rasanya benar-benar menyebalkan! Karena hanya kamu (mungkin satu-satunya) yang tahu rahasia tersebut, dan kamu tak boleh mengatakannya pada yang lain.

index

Rasanya benar-benar ingin meledak lalu berteriak sepuasnya! Dengan segala cerita-cerita lain —rahasia-rahasia—yang tersimpan dalam pikiranku. Continue reading

Desember, Selamat Datang!

Senja,
Mendung kemudian hujan
Berulang-ulang
Desember berjalan
Lalu, sampai dimanakah kita sekarang?

Dingin mengembun di kaca jendela sebelah, memburamkan
Meski salju tak pernah turun, kenapa hadirmu menyesakkan?
Membekukan, bahkan sampai ke inti tulang
Mematikan sel saraf, hingga tak sadar waktu berlari meninggalkan

Kau berjalan, aku terdiam
Kau berlari, aku pun terdiam
—bukan, bukan berarti aku tak ingin mengejarmu
Sebuah tali mengikatku, oh bukan—itu rantai baja!
Atau, itu hanya alasan untuk sebuah kemalasan?

Aku tak ingin mengejarmu
Aku juga selalu mencoba tak lagi menunggumu—berbalik kemudian menggenggamku
Aku hanya ingin berhenti di titik ini—sekarang

Aku takut,
Semoga aku tak keluar dari jalan

Sebuah Perulangan dari Malam Sebelum Esok

 

Kosong. Seperti menunggu matahari terbit–itu sesuatu yang pasti–namun masih butuh berjam-jam untuk bisa melihat bias-bias kemerahan di ufuk timur sana.

Memilih bertahan, atau menyerah dan menutup mata? Membiarkan diri terlelap dan terkubur dalam lubang hitam tanpa tahu “apakah aku sanggup keluar”.

Mustahil. Meskipun sudah menyakinkan diri dan sanggup, “aku bisa”, toh waktu dengan kejamnya terus saja berjalan–dengan pasti. Perlahan mengikis dan mengkorosi sepersekian sel dan jaringan. Memperlambat. Menuakan. Membuat keyakinan pada akhirnya tergerus dan menguap.

Inikah pilihan yang benar?

179 hari telah terlalui, dan dengan bodohnya masih saja menghitung dan mengulang apa-apa yang sudah terjadi.

Tidakkah sebaiknya dibakar saja? Dibiarkan menjadi abu di tengah api yang menari-nari? Bukankah itu bisa membuatmu lebih hangat dan nyaman?

Oh, benar!

Ini bukan lagi dingin yang terasa–panas membuatmu gerah dan kehilangan akal. Pantas saja, pada akhirnya kau (lagi-lagi) tak bisa pergi dari tempatmu berada. Dan–oh, bukankah kau sudah terhisap lubang hitam tadi?

Imajiner “Kita”

Kita,
Berdiri di bawah langit yang sama namun tanah yang terpijak tak sama.
Kita,
Disinari oleh bintang yang sama namun udara yang terhirup tak tentu sama.
Kita,
Terikat oleh dua suku kata namun itu hanyalah imajiner belaka.
Aku. Kamu.
Bisakah menyatu menjadi kata “Kita”?
Jika tanpa adanya takdir penghubung yang menyatukan, sepertinya aku akan tetap menjadi “Aku”, kamu tetap menjadi “Kamu”
dan “Kita” hanya akan menjadi imajinasiku saja.