Jika Kau Hanya Sekedar Mimpi #2

Hari itu aku terbangun, di tengah ruangan asing yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehku. Ruangan yang tiga kali lebih luas dari kamarku. Ruangan yang didominasi oleh warna merah marun–dinding, korden, lantai, dan oh, selimut yang menutupi tubuhku juga berwarna sama.

Tapi tunggu, kenapa tubuhku rasanya sulit sekali untuk bergerak? Seperti ada rantai yang mengikatku agar tetap diam ditempat. Dan juga ada rasa nyeri yang parah di dada, tangan dan kakiku.

Kulirikkan mataku ke bagian bawah tubuhku, tidak ada yang bisa kulihat. Semua tertutup selimut tebal hingga sebatas dadaku. Sedikit kugeser kepalaku–yang ternyata terasa sangat sulit melakukannya–dan melirik bagian kanan tubuhku. Walaupun tidak terlalu jelas, seluruh tangan kananku diperban? Dan, oh aku baru sadar pergelangan tangan kiriku terpasangi selang infus.

Dimana sebenarnya aku? Tidak mungkin aku berada di rumah sakit karena tidak ada bau pemutih yang menguar di udara, dan juga bukan warna putih yang mendominasi ruangan yang aku tempati ini. Ketika aku berusaha mengingat dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi padaku, suara pintu terbuka mengusikku.

Jika Kau Hanya Sekedar Mimpi #1

September.
Oktober.
November.
Tiga bulan telah berlalu dengan pasti. Saat aku hampir berhasil berusaha sekuat tenaga mensugestikan apa yang aku lihat dan aku yakini selama ini–tentang keberadaanmu–hanyalah sebuah ilusi, dan mungkin kau hanyalah sebuah hasil dari imajinasi terliarku, saat itu kau justru hadir kembali dalam kehidupanku yang membosankan ini.
Wajahmu. Suaramu. Penampilanmu. Sifatmu. Semua mirip dengan dia–yang selalu memenuhi pikiranku, tapi kau bukan dia! Dia telah pergi meninggalkanku! Pria brengsek yang setengah mati kucintai itu telah membohongiku. Meninggalkanku dengan sejuta janji yang tidak pernah bisa dia tepati. Meninggalkanku dengan lubang besar di dadaku–yang lukanya terus saja basah mengeluarkan darah hingga detik ini. Meninggalkan rasa nyeri yang berdenyut-denyut dan selalu membuatku sesak walau hanya untuk sejenak.
Siapakah sebenarnya kau? Aku mohon, jangan pernah mencoba memasuki kehidupanku. Aku mohon, cukup dia yang meninggalkan luka di hatiku. Aku mohon, menjauhlah dari pandanganku. Karena aku telah lama mati. Tak ada kehidupan lagi di dalam sini. Sejak dia membawa hatiku pergi…