Paranoid

image
Pesan itu sudah datang lebih dari dua minggu berlalu. Dan aku masih mengingatnya, masih memikirkannya.

Akhirnya kabar itu datang. Kabar yang sudah aku imajinasikan beberapa waktu yang lalu—lebih dari satu setengah tahun yang lalu. Berita tentang akhirnya kamu yang akan menikah.

Apakah aku bersedih?

Tidak… Justru sebaliknya, tentu saja aku cukup merasa senang mengetahui jika kamu akan segera melangsungkan pernikahanmu dengan orang yang sebelumnya sempat aku sangsikan. Karena, bukankah seringkali apa yang menjadi perkiraanku lebih sering salah daripada tepat? Dan kamu menjadi salah satu buktinya.

Aku cukup bahagia jika kamu merasa bahagia. Karena aku telah benar-benar melepasmu. Dan kemarin ketika aku mencari-carinya, aku tak lagi menemukan rasa yang tertuju padamu. Meskipun, yaaahh.. ada juga saat-saat terkadang aku kembali memimpikanmu. Namun itu hanyalah sebatas bunga tidur. Aku akan melupakannya beberapa saat kemudian.

Aku senang ketika kamu masih menganggap diriku—masih mau menyebutku sebagai salah satu orang yang cukup penting bagimu—dengan mengabarkan pernikahanmu tersebut langsung dari tanganmu. Dan aku juga cukup merasa terhormat ketika kamu mau mengundangku untuk datang ke pesta sekali seumur hidupmu, meskipun kamu tahu bagaimana keadaanku—yang tak mungkin untuk datang ke tempatmu.

Namun kamu memberikan jalan yang menurutmu adalah sebuah pencerahan—sebuah jalan agar aku bisa turut serta dalam euforia kebahagiaanmu. Yang tidak kau tahu hanyalah jika jalan yang kamu berikan itu justru menjadi sumber salah satu paranoidku belakangan ini.

image

Nama itu tersebut. Nama yang aku pikir tak mau lagi mendengarnya entah dimanapun. Nama yang terlupakan—yang berusaha aku hapus dari pikiran. Nama yang hanya ada di kehidupanku yang lain. Bukan dari kehidupanku di masa lalu maupun masa kini. Nama dan peristiwa yang hanya ada di dalam Alternative Universe-ku.

Dan yang paling parah adalah kamu meminta mereka—temanmu tersebut untuk menjemputku?!

Lalu bagaimana aku seharusnya bersikap?!

Bertemu kembali dengan seorang mantan adalah sesuatu yang cukup sulit aku hadapi karena aku tidak tahu apa atau bagaimana aku harus bersikap dihadapannya. Terlebih, maskipun kami berakhir dengan cukup baik, percakapan-percakapan terakhirku dengannya bukanlah sesuatu yang ingin aku ingat.

Dan pada akhirnya aku membayangkan berbagai skenario terburuk jika akhirnya aku bisa datang dan dijemput mereka. Membayangkan hal-hal yang membuatku paranoid. Dan itu semua cukup meningkatkan stresku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s