150812

image

Mendadak aku seperti dilanda oleh gelombang kesedihan—mungkin lebih tepatnya hatiku yang paling parah mengalami kerusakannya. Pikiranku kacau. Dan aku tak tahu apa yang menyebabkan kedua hal itu terjadi sekarang ini.

Aku tak melakukan apapun—atau berbicara tentang hatiku dengan siapapun. Aku hanya sering bermonolog dengan diriku sendiri beberapa hari ini.
Lalu, kemudian aku menyadarinya. Aku melahap banyak hal hanya dalam dua hari terakhir ini; membaca novel Audy 4/4—yang bahkan belum ada separuh bagian aku membacanya setelah hampir seminggu aku memilikinya, membaca Mockingjay&mdas;hanya karena rasa penasaran setelah selesai menonton Insurgent, menonton web drama We Broke Up-nya Kang Seung Yoon dan Sandara Park, melakukan beberapa hal fangirling, dan bermonolog tentang berbagai hal yang mengganggu pikiran belakangan ini. Tentang mimpi-mimpi. Tentang “seandainya”…

Pikiranku penuh sesak, dan aku tak ingin berbagi dengan siapapun meski aku begitu ingin memuntahkannya. Kurasa aku telah kehilangan banyak hal mendasar untuk berbagi ketika aku mulai membangun dinding pertahananku.

Aku membuat diriku sendiri melayang begitu tinggi. Mengandaikan banyak hal yang bisa terjadi pada diriku seandainya… Kemudian, pada titik tertentu, aku menghempaskan diriku sendiri jatuh berdebum di lantai beton untuk menyadarkan keadaanku yang nyata. Agar aku merasakan sakit. Agar aku lebih bisa menerima kenyataan yang mungkin akan menyakitiku di masa depan nanti. Dan aku tak perlu berlarut terlalu lama dalam kubangan kesedihan,

Kebahagiaan. Kebersamaan. Sesuatu yang sangat ingin begitu aku raih dan menggenggamnya dengan erat. Tapi kedua hal itu justru menjadi bara yang membakar tanganku. Membuatku agar segera tersadar bahwa kenyataan tak mungkin mengijinkanku untuk memilikinya.

Haruskah aku menerimanya?

Harusnya aku menerimanya! Tapi tetap saja aku ingin memungkirinya. Aku terus saja berandai-andai lalu menghempaskan diriku berkali-kali. Rasa sakitnya tetap saja sama meski seharusnya aku sudah jauh lebih kebal. Hanya saja, mungkin saat ini aku tidak terlalu bersedih ketika aku terjatuh. Aku bisa membangun dan menata ulang diriku—menebalkan dinding pertahannku… Yang meskipun terlihat begitu tebal, namun ia sebenarnya begitu rapuh. Hingga sekali saja ada yang menyentuh permukaannya, dinding itu akan langsung robek dan memperlihatkan luka-luka yang telah aku sembunyikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s