A Wedding

06eaf050329ea6330e5d0145eeac06cbSource pict pinterest

Jaaadiii… di tahun 2015 ini, di keluarga besarku akhirnya ada lagi yang menikah!!!

Nugu??

NO!!

Itu bukan aku.

Yang menikah tahun ini adalah kakak sepupuku—anak ketiga dari dari Budhe nomer dua dari pihak Ibuku. Agak membingungkan memang. Jadi, Emakku sendiri anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Sedang Bapak, anak ketiga dari tujuh bersaudara. Kakek Nenek—kalau orang Jawa lebih sering memanggil “Mbah Kakung dan Mbah Putri”—dari pihak Bapak sudah berpulang tahun 2009 yang lalu. Sedang Mbah Kakung dari pihak Ibu sudah lebih dahulu berpulang saat aku masih kelas 6 di Madrasah.

Yang menikah sekarang ini—tepatnya hari ini— adalah Kakak sepupu laki-lakiku. Mas Adip namanya. Panjangnya sih, jujur saja aku nggak tahu. Meskipun aku merasa lebih dekat dengan keluarga besar dari pihak Ibu daripada Bapak, tetapi ada juga rasanya yang seperti orang asing bagiku. Mungkin karena kami jarang bertemu dan jarang membicarakan banyak hal. Makanya, meskipun cukup dekat, terkadang aku merasa sedikit asing jika hanya berdua saja dengannya di satu ruangan.

Menurut wiki, pernikahan itu adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.

Kalau menurutku sih, pernikahan itu adalah penyatuan dua keluarga. Dan jika diadakan walimatul ‘ursy, selain ditujukan untuk memohon doa restu dari tamu yang hadir, juga sebagai salah satu sarana berkumpulnya keluarga besar selain di hari Lebaran.

Tapi terkadang orang-orang yang sudah tua—yah… sebut saja sesepuh di keluarga, meskipun belum tua-tua bangetlah—tidak terlalu peka terhadap artian tersebut. Mereka mungkin hanya berpikir; “Bagaimana acara ini akan berjalan?” atau “Bagaimana jika ada hal yang kurang?” Apakah mereka juga bisa berpikir; “Bagaimana sanak saudaraku akan datang?” atau “Kenapa keponakan-keponakanku tidak ada yang datang?”

Yah… aku sendiri belum pernah mengalaminya, maksudku, menikah dan menikahkan. Jadi aku tidak akan mengerti bagaimana pikiran-pikiran orang tua berjalan. Jadi, seperti hari ini, aku terlupakan… (atau aku yang beranggapan demikian?)

Tapi, bukan hanya sekali ini. Dulu juga pernah terjadi saat Budhe pertama dari pihak Ibu menikahkan anak ketiganya. Aku terlupakan, dan bukan hanya aku saja sih, hampir semua keponakannya tidak ada yang datang. Sengajakah?

Entahlah…

Pada saat itu hatiku terasa sakit. Aku tidak tahu kenapa. Tapi perasaan kecewa begitu menguasaiku. Dan aku hanya bisa menangis dan menyumpah serapah orang-orang tertentu di rumah sendirian. Ahh… mulutku berasa kotor…

Hari ini berbeda. Aku sudah memantapkan hatiku untuk tidak merasa kecewa jauh-jauh hari—walaupun pagi tadi aku juga masih sedikit gamang dengan keputusanku. Tapi rasa kecewaku sekarang tak sebesar di tahun 2011 lalu. Mungkin  karena aku sudah pernah mengalaminya, dan juga aku sudah menyiapkan hatiku untuk tak terlalu kecewa. Jadi saat ini aku bisa sedikit menghibur hatiku, meskipun ada juga pikiran; “Aahh.. lagi-lagi fotoku tak ada di acara keluarga”.

Pada akhirnya aku juga seharusnya ikut berbahagia dengan adanya pernikahan ini. Dan ya, aku memang turut berbahagia walaupun aku tidak merasakan euphorianya. Aku senang keluarga besarku bertambah besar, apalagi beberapa bulan lagi akan ada tambahan keponakan baru.

At last, congatulation

Mas Adip & Mbak Yah

Barrakallahufikkum. Sakinah. Mawadah. Warahmah.

PS: tbh, I dunno what are their full name.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s