Imajiner Gelap!

Hari itu, sekelebat bayang-bayangan itu hampir-hampir terasa begitu nyata. Aku pergi ke dapur, mengambil sebuah pisau yang bisa aku temukan dan aku jangkau, lalu pergi ke arah depan pintu—dimana orang-orang sedang asyik berbincang tentang masalah politik ataupun tentang beras yang tak lagi asli—dan aku mulai menyayat pergelangan tanganku. Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka melihatku yang biasanya ramah dan baik-baik saja menjadi aku yang akhirnya meledak dan tidak lagi baik-baik saja.

image

Lalu, kelebatan bayangan itu berubah. Aku sendirian di dalam kamar, meraih gunting yang selalu ada di dalam tas yang berisi barang-barang kebutuhanku. Kemudian, aku mulai mengguntingi daging-daging di pergelangan lengan kiriku dan aku bisa melihat bagaimana darah mulai merembes keluar dari sela-sela daging yang tergunting.

Kelebatan bayangan itu berubah lagi, meski hanya sebentar, aku melihat diriku mencoba menusuk perut dengan gunting yang sama.

Tapi pada akhirnya, semua itu tidak terjadi. Semua itu hanya berlangsung di dalam pikiran terliarku. Yang terjadi hanyalah aku terus saja menangis, menumpahkan seluruh rasa sakit hatiku, mengeluarkan seluruh stres yang menumpuk dalam otakku—dan yang akhirnya kulakukan hanyalah mencoba mengiris-iris pergelangan tangan kiriku dengan kuku ibu jari tangan kananku dan menggigitinya, berharap pada akhirnya darah bisa keluar hanya dengan melakukan itu—dan mengurangi rasa sakit yang telah begitu kuat meremas hatiku.

Pada akhirnya aku meledak (aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan segera meledak). Aku telah berusaha menahannya selama beberapa hari belakangan. Tapi pada akhirnya itu justru membuat semakin tipis dinding pertahananku, dan aku menjadi lebih tidak waras.

Aku tahu, seharusnya aku mengurangi beban-bebanku dan melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk diriku sendiri. Tapi aku tidak tahu harus kepada siapa aku mulai menumpahkannya. Aku terbiasa menyimpannya sendiri—terlalu terbiasa untuk tidak membagi—hingga aku bingung, kepada siapa aku akan mencurahkan isi hatiku.

Aku mencoba melakukan hal-hal yang biasanya menyenangkanku—membaca buku, surfing, menonton drama, bermimpi—tapi pada akhirnya itu justru menambah rasa sakit di kepalaku. Dan itu membuat emosiku menjadi semakin tidak stabil.

Seharusnya aku lebih banyak bersosialisasi—bicara banyak hal pada orang lain. Tapi seringkali mulut ini tak lagi bisa berkompromi. Lagi pula, aku juga telah lupa bagaimana cara mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya pada orang-orang terdekatku. Aku terlalu terbiasa hanya membaginya dengan diriku sendiri.

Mungkin aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Saat dinding pertahananku mulai menipis lalu runtuh dan aku akhirnya meledak, yang ada dalam otakku hanyalah kata “mati”. Aku hanya ingin membunuh diriku. Aku tidak ingin bertahan lebih lama dari ini.

Aku telah berusaha membahagiakan diriku, melakukan hal-hal yang bisa membuatku tersenyum. Tapi pada kenyataanya itu semua tidak akan pernah bisa cukup. Semua itu hanya bisa membuat senyum di bibirku tanpa benar-benar bisa menjangkau ke dalam hatiku.

Aku sadar, kewarasanku semakin menipis seiring waktu yang berlalu. Dan tinggal menunggu waktu, saat ketidakwarasan sepenuhnya mengambil alih pikiranku. Mungkin saat itu aku benar-benar akan merealisasikan apa yang hanya ada dalam imajinasiku.

Seiring berhentinya air mata yang mengalir, aku mulai membangun kembali dinding kewarasanku. Memikirkan kembali apa yang seharusnya aku lakukan dan apa yang tidak aku lakukan. Akan lebih sulit untuk diperbaiki setelah sebuah ledakan lain terjadi lagi.

Satu hal yang terjadi dan aku sadari jika aku masih diinginkan untuk tetap bertahan adalah kemarin saat aku melihat gunting yang biasanya selalu ada di dalam tasku ternyata dua hari sebelumnya aku lupa memasukkannya kembali ke dalam tas. Dan kini masih ada di tempatnya, di bawah layar monitor di ruang tamu.

Seandainya saja, hari itu, jika ketidakwarasan mendominasiku, dan guntingku berada di tempat dimana tas itu hanya berjarak 30cm dari jangkauanku, akankah aku melakukan apa yang ada dalam bayangan itu?

Mungkin akan ada hari lain untukku mencoba melakukannya.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s