Antara Aku, Kamu dan Sebuah Rahasia

Bahkan, jika aku tidak bisa menahan lagi rahasia yang aku simpan, aku tidak akan begitu saja mempercayakan rahasia-rahasia tersebut kepada orang lain.

Apa gunanya membeberkan sebuah rahasia pada orang lain? Jika aku memberitahukannya pada orang lain selain diriku, maka itu bukanlah sebuah rahasia lagi—dan kamu tidak lagi mempunyai hal berharga yang bisa kamu lindungi. Kamu tak lagi istimewa.

Terkadang rasanya benar-benar menyebalkan! Karena hanya kamu (mungkin satu-satunya) yang tahu rahasia tersebut, dan kamu tak boleh mengatakannya pada yang lain.

index

Rasanya benar-benar ingin meledak lalu berteriak sepuasnya! Dengan segala cerita-cerita lain —rahasia-rahasia—yang tersimpan dalam pikiranku. Tidakkah mereka-mereka sadar dengan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat sebelum aku? Yang diperbuat oleh para pendahulu? Sebelum aku, kamu atau bahkan mereka ada? Dengan segala timbal balik—akibat—yang (mungkin hanya) tertujukan padaku?

Aku muak! Lebih muak daripada yang mereka-mereka pernah rasakan.

Mungkin, aku terlalu berpikir berlebihan dengan masalah ini—kali ini. Aku mungkin terlalu mendramatisirnya. Pasti akan terpikir seperti itu.

Ah, tapi… aku memang selalu mempunyai pikiran yang berlebih—dengan waktu dan ruang yang tidak terbatas yang aku miliki. Karena, dengan siapa lagi aku menceritakan apa yang aku alami dan rasakan jika bukan kepada diriku sendiri?

Karena… tak ada lagi yang bisa aku percaya—selain diriku sendiri dan, penciptaku.

Karena… tak ada lagi yang mengerti dan memahami aku selain aku.

031515 in silent mind.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s