A Family Room

Bukannya tidak peduli dan tidak mau tahu, tapi apakah sebuah hubungan, keluarga, persahabatan, hanya akan kembali terjalin dan tersambung jika musibah sudah mendatangi salah satu pihak? Haruskah menderita terlebih dahulu untuk menyambung silaturahmi yang sebelumnya telah terkikis oleh waktu dan egoisme masing-masing individu?

Jika dalam sebuah garis keturunan, akan saling bertukar sapa hanya saat pihak pertama sedang membutuhkan bantuan materi, apakah itu yang namanya keluarga? Jika individu-individu itu bisa lebih banyak mengobrol hanya jika saat Hari Raya, apakah itu disebut keluarga? Namun, bahkan dalam Hari Raya pun, terkadang ada juga yang ternyata menyisihkan beberapa jam dari berhari-hari hari liburnya pun begitu sulit.

Orang-orang yang lebih sering berada dalam sekeliling kita—jangkauan kita—terkadang memang terasa jauh lebih seperti keluarga daripada orang yang mempunyai gen yang sama yang mengalir dalam darah kita. Mereka (mungkin) akan selalu ada saat kita mengalami masa-masa sulit ketimbang keluarga yang jauh dari tempat perantauan kita. Namun, saat kamu ternyata telah mati mendahului, saat semua bagian dari tubuhmu telah menjadi remah-remah dan menjadi santapan cacing tanah, apakah mereka masih mengingatmu? Ya, mungkin saja. Tapi, apakah mereka akan tetap menyelipkan namamu di antara doa-doa yang mengalir dari bibir mereka?

Egoisme. Hedoisme. Tanpa kita sadari penyakit-penyakit itu masuk ke tubuh kita, mengalir bersama merahnya darah, mengeras membentuk hati dan akhirnya menebal dengan rasa ketidakpedulian.

Dengan terciptanya banyak alat komunikasi, sulitkah hanya untuk mengucap atau sekedar menulis kalimat Assalamu’alaikum? Sebuah kalimat singkat namun begitu besar doa yang terselip di dalamnya, yang mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk mengetiknya, apakah terasa begitu lama dari 43200 menit dalam sebulanmu?

Pekerjaan. Keluarga baru dari penyatuan dua keluarga. Lingkungan baru. Teman baru.

Akan menjadi alasan-alasan kecil yang akhirnya membuat jurang pemisah yang terus melebar seiring waktu berjalan, entah kita menyadarinya atau pun ternyata kita pura-pura mengabaikannya.

Pihak pertama mungkin akan beralasan; pekerjaan menyita hampir seluruh waktunya, bahkan waktu untuk anak istrinya pun terasa kurang berkualitas. Dan pihak kedua pun akan beralasan; waktu mungkin lebih luang untukku, namun aku tidak ingin mengganggu kesibukan yang sedang kamu lakukan. Dari sebuah celah kecil tumbuh menjadi jurang raksasa, yang akhirnya membutuhkan jembatan rumit dan panjang hanya untuk kembali menghubungkan keduanya.

Dan karena terlalu panjangnya jembatan itu, masing-masing pihak terasa canggung saat semua berkumpul kembali (yang kemungkin hanya akan terjadi saat Hari Raya tiap tahunnya). Lalu, satu sentimeter lagi akan menambah jumlah panjang celah yang telah tercipta, dan sebuah papan harus dicari untuk memperbaiki jembatan yang sebelumnya.

Sebuah keluarga baru memang akan selalu bisa tercipta dimanapun kakimu berpijak. Namun, keluarga lama juga bukanlah sesuatu yang hanya bisa kamu sapa saat Hari Raya ataupun ketika bencana baru menderanya.

Teruntuk keluarga besarku; orang-orang yang pernah aku tempeli, yang pernah menjadi tempat sampah bagiku, yang mungkin tak banyak yang bisa memahamiku. Seperti magnet yang telah kehilangan daya tariknya, karena menempel di terlalu banyak tempat, sebuah zat yang telah bercampur dengan banyak materi lain tak akan lagi menjadi zat yang sama.

Masing-masing dari dalam diri kita sudah banyak berubah, perlahan dan pasti, meskipun lebih jauh di dalam sana inti tidak akan pernah bisa diubah. Begitu pun aku, jika yang lain akan semakin meluas, maka aku semakin mempersempit ruangku dan meninggikan dindingku.

Membentuk sebuah ruang tidak semudah meniupkan udara ke dalam sebuah balon, yang bisa meluas dan menciut sesuai keinginan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s