Sepi. Bayi. Hujan.

Aku merindukan saat-saat sendiriku. Benar. Dengan sepasang earphone terpasang di telinga, media player melantunkan lagu Bye Bye dari 7!! Seven Oops secara berulang-ulang tanpa bosan dengan volume medium.

Suara rintik-rintik hujan masih sayup-sayup tertangkap oleh telinga. Angin dingin dari luar mulai menggoyang-goyangkan apapun yang ada di dalam ruang tamu. Sepi. Ini benar-benar sepi yang aku nanti. Entah hanya kebetulan atau tidak, kerena hari ini Hari Nyepi.

Hujan di luar mulai memukul-mukul kaca jendela sebelah. Dinginnya angin sudah tak lagi menyejukkan, berganti menjadi dingin yang membuat orang kepingin berada dibawah selimut hangatnya. Sepertinya tidur siang akan sangat menyenangkan, namun entah mengapa ada hal membuat hasrat itu tak bisa dilakukan.

Sepi, hanya ada aku dan lalat-lalat berterbangan mencari makan. Bapak di luar sana bekerja seperti biasa. Ibu dan adik pergi melihat keponakan baru yang lahir tadi pagi. Keluarga besar bertambah satu lagi. Keluarga besar tidak akan menjadi besar kalau tidak bertambah.

Ini membahagiakan. Tentu saja, namun aku masih belum ingin mendekat ke eforia itu. Aku butuh sendiri. Hari ini, kali ini. Aku butuh waktu untuk mengistirahatkan pikiranku. Mengisi ulang daya senyum dan tawa yang mungkin akan kugunakan esok saat aku berada dalam eforia mereka.

Wahai hujan,
basahi aku dengan airmu
Hilangkan semua kepenatan di pikiranku
Ya Rabb,
lenyapkanlah semua kegelisahan di hatiku..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s