I’m Falling Without You

Rasanya begitu sakit. Ada kesedihan yang siap membuncah —seperti bom atom yang telah habis masanya dan akhirnya ia akan segera meledak.

Kenapa aku harus begitu sedih? Jika akhirnya aku tahu bila esok kamu akan kembali. Bukankah seharusnya jarak kita menjadi lebih dekat? Dan seharusnya itu membuatku senang?

Aku takut. Sejujurnya jauh di dalam sana aku takut jika aku kembali bertemu denganmu. Aku takut jika akhirnya kita kembali berbincang bersama, seolah tak terjadi apa-apa (atau aku takut kau akan membicarakan masa lalu? Sesuatu yang selalu tidak ingin aku ingat). Aku takut, jika kamu mungkin datang dengan seseorang lagi—seperti waktu itu—dan mengabaikanku. Aku takut, jika kita bertemu itu adalah akhir dari “kita”.

Aku tahu semua rasa ini menyakitkan. Namun aku juga tetap saja tak bisa mencegahnya. Seperti orang tolol yang melakukan hal bodoh secara berulang-ulang. Tahu jika itu menyakitkanmu namun tetap melakukannya.

Apakah aku sudah salah sejak awal? Selalu berharap walau hanya ada kekecewaan dan keputusasaan. Apakah sejak awal aku telah salah mengartikan semua tingkahmu dulu?

Aku selalu ingin mengucapkan “selamat tinggal” pada rasa itu namun tetap saja aku tak bisa melakukannya. Aku selalu menahannya. Selalu ingin mengulangnya. Meskipun tahu bahwa tidak akan terbalas.

Sejak awal, i’m fallen (love) without you..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s