Jika Kau Hanya Sekedar Mimpi #2

Hari itu aku terbangun, di tengah ruangan asing yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehku. Ruangan yang tiga kali lebih luas dari kamarku. Ruangan yang didominasi oleh warna merah marun–dinding, korden, lantai, dan oh, selimut yang menutupi tubuhku juga berwarna sama.

Tapi tunggu, kenapa tubuhku rasanya sulit sekali untuk bergerak? Seperti ada rantai yang mengikatku agar tetap diam ditempat. Dan juga ada rasa nyeri yang parah di dada, tangan dan kakiku.

Kulirikkan mataku ke bagian bawah tubuhku, tidak ada yang bisa kulihat. Semua tertutup selimut tebal hingga sebatas dadaku. Sedikit kugeser kepalaku–yang ternyata terasa sangat sulit melakukannya–dan melirik bagian kanan tubuhku. Walaupun tidak terlalu jelas, seluruh tangan kananku diperban? Dan, oh aku baru sadar pergelangan tangan kiriku terpasangi selang infus.

Dimana sebenarnya aku? Tidak mungkin aku berada di rumah sakit karena tidak ada bau pemutih yang menguar di udara, dan juga bukan warna putih yang mendominasi ruangan yang aku tempati ini. Ketika aku berusaha mengingat dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi padaku, suara pintu terbuka mengusikku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s